Jadikan
Bonus Demografi Berkah Bukan Musibah
Indonesia, negara kita tercinta
memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia yang dari tahun ke tahun
terus meningkat. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
memproyeksikan pada tahun 2035 mendatang jumlah penduduk Indonesia berjumlah
305,6 juta jiwa, meningkat 28,6 % dari tahun 2010 sebesar 237,6 juta sehingga menjadikan
Indonesia negara dengan jumlah penduduk terbanyak kelima di dunia. Hal tersebut
yang memicu terjadinya Bonus Demografi. Yakni meningkatnya jumlah penduduk usia
produktif (15-65 tahun) sehingga menurunkan angka Dependency Ratio, angka yang menunjukkan jumlah penduduk non
produktif (<15 tahun dan >65 tahun) yang harus ditanggung setiap 100
orang penduduk produktif. Bonus demografi ini merupakan bukti keberhasilan
program Keluarga Berencana (KB) dan program penurunan kematian bayi.
Keberhasilan program KB bisa
dilihat pada penurunan fertilitas bayi. Penurunan fertilitas (kelahiran) akan
menurunkan proporsi anak-anak yang harus dihidupi dan ditanggung oleh sebuah
keluarga. Keberhasilan program kesehatan
diantaranya penurunan angka kematian bayi. Penurunan kematian bayi akan
meningkatkan jumlah bayi yang terus hidup dan mencapai usia kerja. Bonus
demografi dikaitkan
dengan munculnya suatu
kesempatan, the window of opportunity (Jendela Peluang) yang dapat dimanfaatkan
untuk menaikkan kesejahteraan
masyarakat. The window of opportunity
terjadi tahun 2020-2030 dimana Rasio Ketergantungan
mencapai titik terendah yaitu
44 per 100. Tetapi
akan meningkat lagi
sesudah 2030 karena meningkatnya proporsi penduduk lansia. Peluang ini harus dimanfaatkan
sebaik-baiknya karena hanya akan terjadi satu kali dan itu dapat terjadi
apabila penduduk usia produktif benar-benar bisa berkarya dan berkiprah secara
produktif sehingga dapat dijadikan modal pembangunan bangsa.
Bonus demografi merupakan The window opportunity bagi seorang ibu
melalui kelahiran tercegah. Ibu-ibu akan mempunyai waktu yang lebih untuk
melakukan hal-hal selain melahirkan dan merawat anak atau masa melahirkan dan
merawat anak lebih pendek. Hal tersebut berpengaruh terhadap peningkatan
kesempatan kerja untuk melakukan kegiatan yang produktif. Hal itu merupakan hal
yang menguntungkan karena bonus demografi
memberi peluang untuk meningkatkan produktivitas
dan memicu pertumbuhan
ekonomi melalui peningkatan kualitas human capital.
Beban Ketergantungan 44
per 100 memberi landasan
pembangunan ekonomi tanpa dibebani jumlah
anak-anak yang besar.
Biaya investasi untuk
pelayanan dasar anak-anak dapat
dialihkan untuk peningkatan mutu
modal manusia. Semua upaya dicurahkan untuk meningkatkan
mutu modal manusia baik dari segi pendidikan, kesehatan, kecukupan gizi,
kemampuan berkomunikasi, menguasai sains dan teknologi serta aspek-aspek sosial
budaya lainnya.
Hal yang juga perlu diperhatikan
adalah setelah periode bonus demografi kita mempunyai tugas besar untuk
mengatasi masalah jumlah lansia yang melambung. Pasca bonus demografi jumlah
lansia sangat banyak sedang penduduk produktif hanya setengahnya. Tanpa
persiapan yang optimal sebelum dan saat bonus demografi berlangsung, momentum
itu justru menjadi senjata makan tuan. Musibah yang baru akan menyapa negeri
ini. Perekonomian akan terpuruk, ketahanan pangan terancam, juga masalah
kesehatan dan lingkungan hidup. Perlu adanya investasi atau tabungan yang harus
dipersiapkan dengan matang agar nantinya masalah-masalah tersebut bisa teratasi
atau bahkan bisa dicegah.
Sebagaimana yang ada pada
JURNAS.COM artikel yang dibuat pada Jum'at, 28 Februari 2014 , 02:55:20 WIB
dikatakan bahwa ada lima prasyarat agar negara mendapat bonus demografi.
Pertama, pasar tenaga kerja harus mampu menyerap seluruh tenaga kerja dalam
negeri. Jika tidak, gejolak sosial seperti peningkatan angka kriminalitas akan
muncul ke permukaan. Solusi lain untuk masalah ini ialah memaksimalkan jumlah
pekerja usia produktif yang dapat dikirim ke luar negeri. Kedua, kesadaran
untuk menabung (private saving). Private saving adalah
salah satu modal investasi yang memiliki kontribusi untuk menaikkan GDP.
Semakin besar jumlah saving yang dialokasikan penduduk, semakin besar
investasi yang dapat diciptakan, dan semakin tumbuh perekonomian dalam negeri.
Ketiga, Human capital atau sumber daya manusia (SDM) yang
mumpuni. Tanpa pendidikan SDM tidak akan berkualitas, jumlah pengangguran akan
bertambah seiring dengan kualifikasi pekerja yang tidak terpenuhi dengan
kebutuhan kerja. Keempat, Program Keluarga Berencana harus terus berjalan. Dan
yang kelima adalah diaspora demografi lokal. Diaspora demografi lokal yaitu
intervensi pemerintah untuk menyebar penduduk ke seluruh daerah di Indonesia.
Menyebar populasi perlu agar tidak terjadi sentralisasi penduduk yang bisa
menyebabkan ketimpangan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan
dan keamanan.
Untuk menghadapi momentum bonus
demografi tersebut yang paling penting kita harus mempersiapkan sumber daya
manusia yang memiliki kemampuan hard skill dan soft skill yang baik sehingga
mampu bersaing dan dapat diberdayakan. Misalnya untuk anak-anak yang memiliki
orang tua kurang mampu secara ekonomi pastilah mereka tertuntut untuk putus
sekolah. Tugas kita menahan mereka untuk tetap bersekolah. Artinya pemerintah
harus membuat kebijakan-kebijakan yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk
mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Wajib belajar 12 tahun merupakan salah
satu program yang bisa dijalankan. Bersekolah dari jenjang Sekolah Dasar sampai
Sekolah Menengah Atas gratis.
Kita tahu bahwa di Indonesia terdapat
banyak sekali anak jalanan. Sebisa mungkin kita berusaha untuk membantu mereka
mengenyam pendidikan di sekolah umum. Untuk kembali ke sekolah umum mungkin sedikit
sulit karena malu atau pun umur mereka yang sudah tidak sesuai kriteria jenjang
pendidikan yang seharusnya ditempuh. Nah kita bisa membuat suatu sekolah khusus
yang tidak hanya mengajar akademik, tetapi juga ketrampilan-ketrampilan tertentu
seperti membuat kerajinan tangan. Kerajinan-kerajinan tersebut bisa jual, jadi
sambil belajar mereka bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup agar
mereka tidak merasa dirugikan dan diharapkan bisa berlanjut terus mengikuti
sekolah ini. Tetapi, soft skill harus tetap menjadi prioritas yang harus diutamakan.
Dan alangkah lebih baiknya di sekolah tersebut terdapat pengajar yang bisa
mengembangkan skill mereka dalam bernyanyi ataupun bermain musik. Diharapkan
nantinya lulusan dari sekolah tersebut bisa menjadi profesional di bidangnya.
Yang selanjutnya adalah menyiapkan
lulusan sekolah yang siap bekerja. Kurikulum yang baik dan sesuai bagi siswa
sangat diperlukan. Tidak lupa kurikulum tersebut juga harus disesuaikan dengan
permintaan global. Apalagi sebentar lagi kita memasuki AFTA (Asean Free Trade
Area). Para pekerja dari seluruh wilayah ASEAN bebas pergi dan mencari
pekerjaan di negara kita. Kalau tidak mempunyai kemampuan yang mumpuni nantinya
para pekerja kita pasti kalah bersaing, antara tidak mendapat pekerjaan dan
mendapat pekerjaan tetapi di tingkat bawah bukan di posisi manajerialnya. Kurikulum
yang baik haruslah didukung dengan pengajar yang baik. Perlu adanya uji
kompetensi bagi para guru di Indonesia. Juga perlu adanya pelatihan cara
mengajar yang baik, efektif dan menyenangkan. Fasilitas yang memadai di
sekolah-sekolah seperti jaringan
internet yang terkontrol, perpustakaan
yang baik akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswanya.
Untuk masyarakat yang sudah berada
dalam angkatan kerja bisa diadakan pelatihan kerja dan pelatihan kewirausahaan.
Dengan adanya acara seperti itu diharapkan angkatan kerja di Indonesia bisa
terserap sepenuhnya. Lebih lebih mereka bisa membuat lapangan pekerjaan bagi
angkatan kerja yang lain. Karena kita ketahui lapangan pekerjaan di Indonesia
tidak sepadan dengan jumlah pencari kerja. Diupayakan pembuatan produk-produk
berkualitas yang bisa diekspor. Selain menyerap tenaga kerja hal itu akan
menaikkan devisa negara yang nantinya bisa diinvestasikan untuk menanggulangi
masalah membludaknya jumlah lansia pasca demokrasi.
Pelayanan kesehatan dasar sejak
dalam kandungan juga harus diperhatikan. Hal itu merupakan usaha preventif agar
bayi yang akan lahir terhindar dari kecacatan dan memiliki pondasi kemampuan
awal yang baik. Pemberian gizi cukup untuk tumbuh kembang anak. Agar nanti saat
bonus demografi berlangsung tidak hanya kemampuan intelektual yang mumpuni,
namun juga kesehatan fisik yang memadai. Apalah arti pengetahuan tanpa aksi
nyata. Jika masyarakat banyak yang sakit, kemampuan yang dimiliki tidak akan
termanfaatkan secara maksimal.
Memberikan
pendidikan sejak dini bagi anak-anak oleh orang tua masing-masing akan
mempermudah proses pembelajaran nantinya di sekolah. Selain mempererat hubungan
antara anak dan orang tua. Selain pengetahuan umum hal yang paling penting
diajarkan sejak dini adalah tentang moral. Caracter building yang baik akan
menunjang kemampuan yang lain.
Untuk
para perempuan bisa diadakan pelatihan di desa-desa atau di perkumpulan-perkumpulan.
Diberi bekal pengetahuan dan kemampuan yang memadai. Hal ini ditujukan agar
nantinya para ibu ataupun calon ibu ketika mempunyai waktu luang karena tidak
terbebani kewajiban mengurus anak bisa melakukan hal-hal produktif dan
menghasilkan. Mereka bisa berinvestasi dari penghasilan yang diperoleh untuk
ditabung.
Persiapan
bagi masyarakat produktif secara umum adalah kemampuan berkomunikasi dan
menguasai teknologi yang menyeluruh. Program internet masuk desa bisa
direalisasikan agar masyarakat di pedesaan tidak tertinggal dalam hal kemajuan
teknologi informasi. Untuk kemampuan berkomunikasi bisa diadakan pelatihan atau
pembelajaran bersama di gedung atau balai desa/kelurahan masing-masing wilayah
setiap pekan. Tidak harus langsung yang sulit atau level yang tinggi. Misal
belajar bahasa inggris sehari-hari yang biasa digunakan atau ditemui di suatu
produk/barang, di televisi atau di tempat-tempat umum. Jika sudah terlampaui
bisa berlanjut ke bahasa percakapan yang lebih tinggi.
Selain
mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas kita juga harus melanjutkan
program yang baik dan terus memperbaiki yang sudah ada. Contoh program Keluarga
Berencana. Fertilitas bayi harus terus dikontrol agar kita tetap bisa fokus
pada pengembangan kemampuan masyarakat usia produktif. Biaya untuk pelayanan
dasar bagi anak-anak bisa dialihkan untuk investasi yang lain. Persebaran
penduduk produktif ke daerah-daerah yang belum dikembangkan. Pemanfaatan secara
bijak dari sumber daya alam yang ada. Kebijakan-kebijakan ekonomi terus
diperbaiki agar iklim usaha kondusif. Hal itu juga akan menarik minat para
diaspora penduduk Indonesia yang ada di luar negeri agar kembali ke Indonesia.
Bersama-sama membangun dan mempersiapkan Indonesia baru yang hebat.
Himbauan
untuk berinvestasi juga dikumandangkan ke seluruh negeri. Kebiasaan menabung
harus digalakkan. Sosialisasi tentang tantangan dan keuntungan dari bonus
demografi yang akan datang juga diselipkan dalam media yang ada. Televisi
sebagai alat komunikasi yang paling sering dilihat dan digunakan oleh
masyarakat Indonesia adalah sarana informasi yang paling efektif. Ditunjang
melalui radio, media sosial dan lain-lain.
Bonus
demografi bukan momentum biasa. Menjadikannya berkah atau musibah tergantung
dari apa yang kita pilih. Kesempatan yang datang hanya satu kali. Marilah kita
persiapkan sebaik mungkin serbisa mungkin.






